Tuesday, May 31, 2011

Persingkat waktu perjalanan Kita

Sudah memiliki tujuan namun mengalami kesulitan untuk mencapinya?
Tidak satu dua tetapi banyak, termasuk saya.

Pernah membayangkan seorang pelari maraton harus menempuh jarak tertentu hingga tiba di tempat tujuannya? Pernah mencoba?

Saya pernah. Target saya adalah menempuh 10 km dalam waktu satu jam. Jauh? Tentu. Untuk membayangkan jarak sejauh itu dengan pelari amatiran seperti saya, sungguh membutuhkan pengorbanan dan usaha yang jauh luar biasa dibanding mereka yang memang profesinya sebagai pelari. Bisa? Aku ragu menjawab. Jujurnya tidak.

Kali pertama mencoba, aku hanya mampu lari selama 10 menit, disusul dengan susahnya bernapas (mungkin karena sebelumnya aku tidak pernah berolahraga). Target lari yang fantastis bukan? Aku seperti orang yang sedang berkelakar dengan diriku sendiri. Pasang target setinggi - tingginya namun tidak dengan persiapan. Jadilah aku yang sering disebut orang "dodol" atau lebih sopannya tidak melihat kenyataan. Aku terkekeh. Menertawakan diriku sendiri. Dan selama satu minggu, tidak satu haripun aku mampu menyelesaikan target yang aku tetapkan. Lalu aku berkata, "udah ke laut aja. Memang lo tidak mampu!" Duhh, mulailah logikaku berkata - kata. Sami mawon. Apa bedanya kamu dengan orang lain, bahkan mungkin lebih buruk. Bermimpi tapi ga lihat kenyataan. Nah loh? Jadilah aku dihakimi oleh diriku yang lain. Grrr. Pengen marah.

Trus apa yag salah? Apakah karena mimpiku yang terlalu tinggi? Apakah karena latar belakang atau pengalamanku atau apa?

Jujur aku menyukai istilah ini, "mundur selangkah untuk berlari seribu langkah". Jadi aku diam sebentar dan berpikir apa yang harus aku lakukan. Apakah aku harus mengubah mimpi dan target yang aku tetapkan untuk 10 km tadi atau terjun saja karena sudah nyemplung disitu? Weitss, salah kaprah lagi.

Aku melihat kembali tujuanku dan aku menemukan satu poin menarik. Bagaimana aku bisa mencapai tujuanku yang besar tadi kalau aku belum mencapai tujuan - tujuan kecil yang secara psikologis terasa lebih mudah dicapai. Lari 10km adalah hal yang terberat buat orang amatiran seperti saya dan tidak terbiasa lari sejauh itu. Maka langkah yang aku lakukan (termasuk lebih realistis namun tetap berjalan pada tujuan akhir) adalah aku mulai berlari setiap 2 hari sekali. Masing - masing hari dengan tujuan kecil namun menopang tujuan besar tadi. Hari pertama sebanyak 2 putaran x 500 meter, hari kedua sebanyak putaran yang sama dengan waktu lebih singkat, hari ketiga aku tetapkan target 2 x 1000 m dan seterusnya. Dan strategi lain yang aku lakukan adalah aku melakukannya dalam keliling ruangan yang lebih kecil dibanding yang sebenarnya. Dengan begitu, aku melihat tujuanku sangat dekat, ada didepan mata dibanding aku harus langsung melalui rintangan 10km tadi dalam satu putaran. Dan ketika makin bertambah target jarak yang ditempuh, aku tetap menggunakan pola pikir 500 m tadi. Aku tahu tujuan yang ingin aku capai, namun dengan persepsi psikologis yang lebih kecil.

Sama halnya ketika kita membuat tujuan - tujuan besar dalam hidup kita dan seringkali tujuan - tujuan itu sepertinya sulit untuk dicapai.

Lalu mengapa kita tidak membuat tujuan - tujuan kecil sebelum mencapai tujuan besar tadi? Mulai dengan tujuan kecil yang dapat kita capai, lalu bertahap tujuan tersebut diperbesar seiring dengan perkembangan kapasitas kita secara psikologis dan non psikologis. Dan tentu saja, tidak ada tujuan besar yang tidak dapat dicapai ketika kita mampu menyelesaikan tujuan kecil lalu mengambil tongkat ekstafet berikutnya.