Wednesday, December 29, 2010

Sebuah monolog seorang sahabat


Bukankah kehidupan itu sesungguhnya sederhana? Lahir, anak, remaja, menikah, mati dan seterusnya. Bukankah hidup juga tidak perlu dipertanyakan, hanya perlu mengalir apa adanya.
Hmmh. Aku tersenyum sendiri. Tiga puluh tahun hidup dalam kegusaran, dalam setiap aktivitas yang menuntut aku harus menjadi pemenang, apapun itu. Aku tidak senang menjadi kalah. Dan hidupku seakan hanya terdiri atas filosofi menang – kalah dan aku tidak menyukai kekalahan.
Sekarang, dalam hening, antara bau rumah sakit, antara jubah – jubah putih, aku berdiam tinggal dalam situasi. Mungkin sebuah kekalahan hidup. Mungkin kalah dari diri sendiri. Sebuah kekalahan yang menyakitkan. Kekalahan akan misteri kehidupan yang tidak pernah aku mengerti. Dan aku tidak mampu berkata – kata. Hanya terdiri doa yang terbatas dan tak mampu terucapkan. Biar sedikit lagi hidup itu Tuhan.


Hmmh. Bukankah kehidupan itu juga sebenarnya sederhana? Aku mempertanyakan diriku sendiri. Mungkin sebenarnya, dalam hidup, tidak ada yang namanya bencana. Tidak ada yang namanya cobaan dari yang Khalik. Dan aku berusaha mengerti setiap rahasia hidup yang sedikit – sedikit melewati kehidupan ini. Apakah Dia dengan rela memberikan cobaan bagi anakNya? Aku pikir tidak. Semakin terbaring dalam diam, semakin aku tahu bahwa baik buruk kehidupan hanya sekelumit kisah yang perlu kita lalui sehingga hidup ini menjadi berwarna.

Bukankah kehidupan yang terlalu tenang, terlalu damai, membuat kita tidak memiliki kisah – kisah yang dapat kita ceritakan ke orang lain? Dan akhirnya kita tidak mampu bercerita tentang Cinta dan kebaikan sang Pencipta dalam kehidupan kita?

Kalau sekarang aku terbaring, biarlah kupetik ingatan – ingatan yang baik, bahwa melaluiku, Ia ingin menyelesaikan pekerjaannnya yang ajaib. Bahwa masih ada cinta dan harapan. Bahwa hidup ini adalah berbagi dengan orang lain.

Diantara rasa sakit yang membalut tulang dan setitik darah yang kadang – kadang mengalir melalui hidung dan bibirku, aku berusaha menjadi manusia yang sebaik – baiknya. Untuk apa bersedih? Untuk apa menangis? Bila ternyata kita dapat membawa kebahagiaan bagi orang lain.
Hmmh. Mungkin tangis itu harus usai. Tangis yang membawa aku kedalam suasana mengasihani diri sendiri hingga lupa betapa indah dunia ini. Hingga lupa bahwa hidup adalah untuk mencintai dan memberi berkat untuk orang – orang disekitarku. Untuk mereka yang mengasihi dan tidak mengasihi aku.

Dan dalam diam juga, aku masih teringat dia. Apakah ia bahagia? Apakah ia sehat? Apakah ia menemukan cinta yang sejatinya layak ia dapatkan? Apakah ia baik – baik saja? Aku bertanya dalam hatiku. Aku mengundang angin membawa salamku kepadanya. Semoga ia menjadi orang paling berbahagia dimuka bumi.

Tuhan, bila keberadaanku membuat situasi menjadi buruk, membuatnya tidak bahagia, aku memilih untuk tinggal diam disini, hanya memperhatikannya dari jauh dan tanpa kata. Biar sekumpulan doa saja yang mampu mendampingi hidupnya. Biar doa yang tak sempurna ini mampu membuka tingkap – tingkap hatiMu dan ia boleh mendapatkan kebahagiaan sejati.
Tuhan, aku tidak sempurna dan tidak sempurna juga setiap perkataan dan kasihku. Meski sedikit, biar boleh kau torehkan dalam coretan – coretanmu akan hari – hari indah yang lalu dan bawah keburukan – keburukan dan kesakitan hanya menjadi sekelumit kisah yang membuat hidup penuh warna dan hanyaMu yang sejati.

Dharmais, Agustus 2010